Thursday, March 19, 2015

MALIQ (PEMALIQ)

Renadi, S. Pd
SEJARAH PERKEMBANGAN POLA PIKIR MASYARAKAT ADAT BAYAN

        Bayan merupakan salah satu daerah yang di huni oleh penduduk Negara Kesatuan Republik Indonesia, dimana Negara Indonesia pernah dijajah oleh Belanda sekitar satu setengah abad atau 350 tahun. Pada tahun 1740 M. dijajah oleh kerajaan Karang Asem Bali Kemudian dilanjutkan oleh Jepang yang menjajah Indonesia selama 3,5 tahun.. Para penjajah ini juga sangat dirasakan oleh masyarakat yang ada di Bayan.

        Jika kita melihat perjalanan kehidupan sebagai orang jajahan ini sangat lama, kalau kita memperkirakan usia Manusia rata-rata 70 tahun, maka ada 7 generasi yang
selalu berada dibawah tekanan para penjajah. Yang paling dirasakan oleh Masyarakat pahitnya jajahan adalah Jepang, diaman pada saat itu pada malam harinya dilarang menggunakan lampu. Saat dikuasai oleh Bali juga Masyarakat dipaksa untuk memeluk Agama Hindu, padahal waktu itu Masyarakat Bayan sudah yakin dengan Agama yaitu Islam.

        Kehidupan 7 generasi sebelum Indonesia merdeka sangatlah pahit, hal inilah yang membuat pola pikir Masyarakat yang selalu berada dibawah ketakutan. Setelah Indonesia merdeka ditahun 1945, kemabali masyarakat menjadi mangsa politik di tahun 1950-an, kita sama-sama mengetahui bagaimana Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam pandangan pemerintah saat itu. Sementara Masyarakat Adat Bayan hanyalah bagian dari ketidak mampuan ekonomi mereka.

        Belanda, Kerajaan Gel-Gel Bali, Jepang, dan pengaruh masa politik Indonesia ditahun1950-an, dan kemudian dimasa Orde Baru, yang pada masa itu Demokrasi masi hanya sekedar perbinjangan. Orde Baru merupakan masa kemerdekaan yang menghancurkan situs adat yang ada di Bayan, dimana pada masa ini bangunan adat seperti Gedeng dibakar. Masyarakat tidak bisa menjalankan tradisinya, menentang perbuatan pemerintah dianggap sebagai pemberontak.

        Hidup yang penuh dengan ketakutan dan tekanan selama 7 generasi ini yang menimbulkan adanya kata-kata tanpa alasan yang jelas dalam Masyarakat Adat, kata-kata itu adalah Pemaliq. Para orang tua selalu melarang anaknya dalam segala tindakan yang tidak boleh dilakukan dengan kata-kata pemaliq, tanpa memberikan alasan. Sementara ada 2 kata pemaliq yang digunakan yaitu, untuk pemaliq untuk hal-hal yang biasa, dan Pemaliq Leket (maliq leket) untuk segala do,a atau mantra atau apapun itu yang berhubungan denga adat.

        Jika kita ingin melalukan sesuatu dan orang tua melarang dengan kata-kata “wal gawe pegawean ica no, soraq kanggo, pemaliq”, mendengar kata-kata larangan tersebut tentu kita akan menanyakan kenapa hal tersebut tidak boleh dilakukan………..? Dan orang tua kembali berkata “pokok a pemaliq wah”, yang artinya memang tidak boleh dilakukan. Kita selalu tidak diberikan alasan, dan jika kita Tanya kembali maka akan dimarahi.

        Bagaimana cara para orang tua mendidik dan mengajarkan anaknya dalam memahami hidup yang sebenarnya tentunya itu kita anggap keliru, tetapi kita juga harus memahami bahwa 7 generasi sebelumnya hidup dalam ketakutan dan tekanan dan cara itulah yang dilakukan oleh para penjajah dimasa lampau. Melihat proses untuk mendapatkan kebebasan untuk menyampaikan pendapat dalam arti luasnya pengakuan Hak Asasi Masnusia (HAM) baru kita dapatkan setelah berakhirnya Orde Baru, atau dimasa reformasi.

        Jadi, pada dasarnya kehidupan Masyarakat Adat dalam menurunkan kearifan local dan adat istiadatnya kepada generasi muda baru dimulai. Tidak heran jika pemahaman Masyarakat Adat tentang adat itu sendiri tidak sama pada masa sekarang ini, karena mereka mendapatkan informasi dari para orang tua rata-rata digenerasi yang terakhir (generasi ke-7), sementara Adat Istiadat dan budaya Bayan ini dilakukan sejak generasi pertama yaitu sekitar tahun 1740 M.

        Demikian tulisan ini saya buat sebagai informasi tentang fenomena yang terjadi pada Masyarakat Adat Bayan yang samapai pada saat ini tidak pasti tentang adat-istiadat dan budayanya. Semoga kedepannya akan ada para peneliti yang mampu untuk mengungkap bagaimana sebenarnya adat dan budaya yang ada di Bayan jika dilihat dari sudut pandang agama, asal-usul, dan lain sabagainya.

No comments:

Post a Comment