Friday, February 17, 2023

PEMBELAJARAN SEKOLAH ADAT BAYAN (SAB) MELALUI SENI MUSIK DAN LAGU

 


Gempa `2018 yang melanda Kabupaten Lombok Utara seakan mulai terlupakan saat ini. Hal itu dapat dilihat dari perilaku yang ada di Masyarakat Dayan Gunung, baik itu dalam tata bermasyarakat maupun bentuk bangunan yang dibuat saat-saat ini.

Pasca gempa, terdapat sekitar 60 % warga terdapak yang menginginkan rumah kayu, sehingga pemerintah kala itu sampai mengeluarkan jenis ini untuk bangunan rumah yang sumber anggaran dari pusat sebesar Rp. 50,000,000 (lima puluh juta rupiah).

Sudah berlalu sekitar 3 tahun, ekonomi semakin membaik, sehingga Masyarakat sudah ada yang mampu membangun rumah dengan anggaran pribadi. Menghubungkan kejadian yang lalu, maka seharusnya setiap orang yang membangun rumah sekarang ini tentunya dengan jenis Rika (rumah kayu), tetapi faktanya tidak seperti itu.

Bayan yang berada disisi timur kabupaten termuda di Nusa Tenggara Barat waktu gempa menjadi sorotan banyak pihak, termasuk pemerintah. Hal ini dikarenakan terdapat banyak rumah yang tidak rusak sedikitpun, meskipun Bayan di landa Gempa sebanyak 2 kali. Rumah Masyarakat Adat yang di kenal dengan Bale Mengina ini menajdi landasan untuk mereview kembali tentang pengetahuan lokal yang ada.


Sekolah Adat Bayan (SAB) yang memang memiliki fokus untuk pendidikan lokal tentang pengetahuan para tetua punya tanggungjawab untuk menyampaikan pengetahuan tersebut kepada generasi muda sebagai penerus dari tradisi yang ada. Untuk bisa menyampaikan secara berkelanjutan serta disenangi oleh banyak kalangan, sehingga mencoba pengetahuan arsitektur tradisional ini dibuat dalam lagu-lagu.

Ide ini berkembang setelah bertemu dengan para seniman Lombok yang memang memilki fokus pada seni music. Yuga Anggana bersama temen-temennya mencoba menggali lebih dalam tentang Bale Mengina, dan selanjutkan dijadikan menjadi lagu, yang sekarang ini sedang dalam proses. Kita berdoa bersama semoga dipertengahan tahun 2023 sudah bisa kita nikamti lagu serta pesan yang ingin disampaikan.

Untuk tahap awal, rencananya akan merilis hanya satu lagu, karena situasi ini SAB terbatas dengan biaya produksi.

Rencana kedepan akan dievaluasi lagi dari proses awal, jika banyak respon serta diminati oleh banyak kalangan tentu strategi pembelajaran melalui music dan lagu akan diushakan secara terus menerus, selain pembelajaran regular dan juga Lapangan.

Musik pengiring lagu akan dikombinasikan dengan berbagai jenis music lokal, seperti genggongg dan gamelan. Tidak hanya itu, permainan anak-anak yang mengisahkan atau menceritakan tentang Bale Mengina inipun akan masuk dalam produk pertma ini.

Untuk beberapa klip video akan diliput dikampung adat yang memang memiliki Bale Mengina, diantaranya Kampung Adat Senaru, Loang Godek, dan juga Sembageq.

Pihak yang terlibat dalam proses awal ini gabungan dari beberapa kelompok yang memilki fokus serta kepedulian terhadap pendidikan adat dan Masyarakat Hukum Adat yang ada di Dayan Gunung pada kususnya dan Lombok pada umumnya. Diantara kelompok tersebut yaitu Sekolah Adat Bayan tentunya, Seniman Lombok (Yuga Anggana, Pamela Paganini, Alam Kundam, dll).

Para potograper dan videograperpun ikut memberikan sumbangsih skilnya kali ini, mereka diantaranya Jati Swara Mahardika cs.

Karena kegiatan ini bersifat sukarela, tentu ini terbuka bagi siapa saja, khususnya dilombok. Jika terdapat seniman yang mau bergabung, maka sangat membantu, terutama dalam hal pengetahuan tentang Bale Mengina sebagai tempat tinggal yang Ramah Gempa.

Bagi seniman atau kelompok seni yang sekiranya mau ikut andil dalam pebuatan lagu yang perdana ini, maka bisa memberikan komentar di artikel ini, karena yang memilki Blog ini adalah Kepala Sekolah Adat Bayan.

Semoga apa yang direncanakan ini bisa berjalan lancar, sehingga pengetahuan tentang arsitektur lokal tetap tersampaikan kepada generasi secara terus menerus, dan kedepan bisa merubah cara pandang dalam kehidupan yang mengarah pada rumah yang aman untuk keluarga serta ramah lingkungan.

 

No comments:

Post a Comment