Friday, March 3, 2023

Bagian Keenam "Kisah Legendaris Perempuan Lombok, Denda Cilinaya"


Pada episode sebelumnya, Datu Keling bersama rombongan melakukan perjalanan ke Kayangan untuk melaksanakan ritual Potong rambut anaknya. Pada suatu persimpangan, bertemulah rombongan Datu Keling dengan Datu Daha.

Meskipun mereka tergabung dalam satu rombongan saat melaksanakan perjalanan ke Kayangan, tetapi banyak hal yang berbeda diantara mereka. Datu Daha bersama rombongan hanya membawa diri, bahkan tidak menunggangi kuda, tidak seperti Kakaknya Datu Keling.

Datu Keling justru menunggangi kuda bermata putih, rambutnya basah, giginya berwarna kuning, menggunakan pelana berhiaskan permata, berselimut kain kombong. Datu Keling saat itu menggunakan topi ala Jawa, diiringi oleh Masyarakat Banyak yang membawa banyak barang dan makanan. Selama perjalanan, bunyi gamelan, gegerok tandak, dan lawas selalu mengiringi Datu Keling.

Datu Daha selama perjalanan diam saja, tidak ada pembicaraan maupun basa basi, baik dengan Kakaknya maupun dengan para pengiringnya sendiri.

Lama melakukan perjalanan, akhirnya mereka sampai ditempat tujuan, yaitu Kayangan. Mereka duduk berderetan, Datu Daha berada disebelah Datu Keling, bersama dengan keluarga kerajaan lainnya dibawah pohon beringin.

Warga masyarakat yang hadir pada acara Datu Keling dan Datu Daha di Kayangan dari berbagai wilayah yang ada disekitaran Lombok, ada yang dari Sidemen, Kekait, wadon, Medas, Sandik, Puncang, Sembalun Aiq, Anyar, Montong Ninting, Tanaq Embet, Jelojok, dan Batu Layar.


Mereka semua ikut membantu Datu Keling untuk membawa barang dan makanan kebutuhan ritual potong rambut di Kayangan. Ada yang membawa tuak manis, nangka, jajan sumping, Semangka, Melon, timun, dan berbagai jenis makanan lainnya.

Haripun sudah sore, di Kayangan masih dipadati oleh banyak orang, tidak ada tempat kosong, sebagian berada dibawah sambi atau geleng, ada yang diberugaq, ada juga yang di bawah tetaring.

Masyarkat yang membawa perlengkapan dan makanan untuk ritual mulai bersiap untuk menuju tempat keramat. Ketiga kerbau dihiasi, mulai dari tanduk, ekor, kepala, kaki, dan tubuhnya, semua dipasang. Setelah semuanya siap, maka kerbaupun disembelih. Semua barang berharga seperti emas, kain, perak, dan lain-lain yang melekat ditubuh kerbau diserahkan kepada penunggu atau pemangku Keramat yang ada di Kayangan.

Kerbau yang sudah disembelih dicincang, dagingnya dibuat sate, lawar, timbungan, dan juga serbuk. Tak lupa lawar komakpun dibuat pada acara tersebut.

Setelah semua makanan matang dan tersaji, Datu Keling, Datu Daha, dan Permaisuri sama-sama menggendong anaknya masuk ketempat keramat untuk memulai ritual potong rambut yang dipimpin oleh Pemangku.

Prosesi potong rambutpun dimulai, dan suara tembakan petasan, gamelan, gegerok tandak, dan lawas saling bersahutan dengan suara bising yang bergemuruh di Kayangan. Warga Masyarakat yang hadir saling senggol, saling dorong, semuanya ingin melihat anak raja-raja meraka saat rambutnya dipotong.

Datu Keling meminta kepada pemangku untuk memberikan nama putranya setelah selesai potong rambut. Sembari melekatnya sembeq dikening putra Datu Keling, Pemangkupun memberikan nama Raden Madiun, supaya berkah jadi orang, kata Pemangku. Pada saat itu juga, ada beberapa anak bangsawan yang akan menjadi teman putra Datu Keling yang memang sudah memiliki nama sebelumnya, tetapi biar bisa rukun dengan Madium, maka diganti menjadi Wirun, Kalang, Andaga, dan 2 lainnya adalah Togok dan Semar. Tujuan diganti nama-nama tersebut biar selaras dengan nama putra Datu Keling, jadi kedepan mereka tidak saling bermusuhan.

Sementara anak Datu Daha yang perempuan, Pemangku memberikan nama Denda Ratsasih sembari menyembeqnya.

Selesai pemberian nama kedua anak Raja tersebut, Datu Keling memerintahkan anak buahnya untuk melempar uang kekumpulan masyarakat banyak. Tadinya warga Masyarakat sedang fokus melihat ritual potong rambut dan pemberian nama anak raja-raja, kini berubah menjadi kerumunan yang saling berebutan uang. Beberapa diantara mereka saling dorong, saling sikut, saling tunggang, saling tendang, muda maupun tua, anak-anak maupun dewasa.


Setelah semua tenang dan aman, maka makan bersama dimulai. Para Raja dan keluarga, patih-patih, punggawa, warga masyarakat, semuanya menikmati makanan sepuasnya. Daging kerbau sebanyak 3 ekor yang dibawa oleh Datu Keling menjadi santapan bersama di Kayangan. Warga masyarakat menikmati hidangan dengan begibung, meskipun demikian, wadah untuk hidangan makananpun tidak cukup, karena banyak warga yang hadir.

Beberapa yang hadir nyirih atau merokok setelah makan, sembari menunggu yang lain selesai menikmati hidangan. Semua rombongan Datu Keling maupun Datu Daha bersiap untuk pulang, beberapa prajurit dan masyarakat mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa pulang.

Para Prajurit pembawa pedang dan perisai berada didepan, Permaisuri Datu Keling bersama putranya menggunakan tandu. Sepanjang perjalanan terlihat seperti anak semut karena padatnya. Datu Daha bersama rombongannya berada pada barisan paling belakang.

Dalam perjalanan tersebut, putri Datu Daha minta turun dari gendongan ibunya, dan permaisuripun menurunkan putrinya dengan tergesa-gesa. Seketika, dengan takdir Allah Yang Maha Kuasa, datanglah angin puting beliung yang sangat besar. Debu berterbangan, ranting-rantingpun patah kemudian melayang, jalan tidak bisa dilewati, berdiripun terasa goyang, semua rombongan Datu Daha terpecah belah, sibuk mengurusi diri sendiri. Tanpa disadari, Denda Ratsasih, putri Datu Daha diterbangkan oleh angin putting beliung yang begitu kencang.

Bagaimana kisah selanjutnya?

No comments:

Post a Comment