Wednesday, October 12, 2016

Perpustakaan Masyarakat Adat “Wetu Telu”




Perpustakaan Masyarakat Adat "Wetu Telu"
Perpustakaan merupakan Gudang Ilmu, buku sebagai bentuk untuk menceritakan pengetahuan dan pengalaman hasil riset maupun yang lainnya. Membaca adalah salah satu cara untuk bisa mengetahui tentang perkembangan zaman dan juga kemajuan teknologi yang lebih canggih dizaman modern saat ini. Ilmu bisa kita peroleh dengan berbagai macam cara, bisa melalui ngobrol, nonton tv, mendengar berita, dan juga dengan membaca buku.

Masyarakat Adat yang selama ini dipandang kumuh, kotor, dan juga bodoh harus ditepis dengan praktik nyata, salah satunya adalah melalui Perpustakaan Masyarakat Adat. Perpustakaan Masyarakat Adat “Wetu Telu” merupakan central untuk pembelejaran Masyatakat kedepannya, karena diperpustakaan ini juga akan dijadikan sebagai tempat pembelajaran kearifan local dan juga seni-seni tradisional Masyarakat Adat Bayan.


Proses Belajar
Perpustakaan Masyarakat Adat ini terbentuk dari berbagai dukungan yaitu Masyarakat Adat Kepembekelan Karang Bajo yang telah menyediakan lahan komunal sebagai tempat untuk bangunan Perpustakaan, Pemerintah Desa Karang Bajo yang telah memberikan bangunannya yang juga dimasnfaatkan sebagai kantor Pengelola Pariwisata Adat dan Budaya, serta dari Program Peduli (Solidaritas Masyarakat Untuk Transparansi Nusa Tenggara Barat/Somasi NTB) yang telah memberikan bantuan berbagai macam jenis buku.

Semua jenis kegiatan dan pendidikan yang dilakukan bisa diikuti oleh semua pihak, baik dari unsur Masyarakat Adat Bayan itu sendiri, Komunitas Adat Luar Bayan, bahkan yang bukan komunitas adat juga bisa terlibat.

Tari Dewa
Pendidikan yang saat ini baru dalam permulaan dan juga tidak ada instansi atau lembaga resmi yang melaksanakannya sehingga tidak memiliki pendanaan yang pasti, sehingga setiap program yang sedang dan akan dilakukan ini  tentunya membutuhkan dukungan banyak pihak, baik dalam bentuk pendanaan maupun pikiran dan juga sumbangsih dalam bentuk tenaga seperti Mengajar atau berbagi ilmu sesui dengan kemampuan yang dimilki.

Jenis-jenis pendidikan yang akan dilaksanakan antara lain :

A.      Pendidikan Seni
Genggong
1.      Dewa
2.      Genggong
3.      Cungklik
4.      Egrang
5.      Egrang
6.      Gegerok Tandak
7.      Joget Lawas
8.      Lontar
9.      Gendang Beleq
10.  Cupak Gurantang

B.      Pendidikan Bahasa
Masjid Kuno Bayan
1.      Bahasa Inggris
2.      Bahasa Daerah (Bahasa Bayan)

C.      Arsitektur Bangunan
1.      Masjid Kuno
2.      Makam
3.      Rumah Adat
4.      Berugaq (Saka Baluq, Saka Enem, Saka Empat, Berugaq Pegat, dll)
5.      Lumbung (Geleng dan Sambi)

D.     Tradisi dan Ritual
Lumbung (Geleng)
1.      Ritual Adat (Bubur Petak, Bubur Abang, Maulid Adat, Roah Ulan, Sampet Jumat, Tek Berat, Kunut, Maleman, Sedekah, Lebaran Tinggi, Lebaran Topat, Lebaran Pendek, Gawe Alip, Tek Lauk Tek Daya, dan Menjojo)
2.      Ritual Bumi (Membangar, Ngolah/selamet/ngorin Bangket)
3.      Ritual Gawe Urip (Buang Awu, Mengkuris, Qhitanan, Perkawinan)

E.      Hukum Masyarakat Adat
1.      Hukum Pertanahan
2.      Hukum Perlindungan Hutan Adat
3.      Hukum Sosial (Cara Bergaul, Apel atau Midang, dll)

F.       Ilmu Teknologi
Hutan & Sawah/Bangket Bayan
1.      Fotografer (Poto dan Video)
2.      Komputer
3.      Pengelolaan Web Side atau Bloger
4.      Narator

G.      Sistem Pertanian dan Perkebunan
 

Pendidikan kearifan local yang disebutkan diatas merupakan bentuk Pendidikan Masyarakat Adat Bayan yang tidak bisa didapatkan dibangku sekolah. Pendidikan local yang sesungguhnya lebih mampu mengikat hubungan antar sesama dan juga dengan alam belum bisa terakomodir oleh Lembaga Pendidikan formal karena kurikulum yang diikuti adalah standar nasional. Disisi lain, Masyarakat Adat Bayan merupakan salah satu komunitas Masyarakat Adat yang saat ini masih exist melaksanakan kearifan local dari para intelektual sebelumnya.

Cupak Gurantang
Masyarakat Adat sekarang sudah mendapatkan pengakuan dari pemerintah, hal ini dibuktikan dengan adanya keputusan MK 35 tahun 2012 tentang Hutan Adat tidak lagi menjadi hutan Negara. Masyarakat telah membuktikan bahwa Hutan Adat yang dijaga dan dikelola oleh Masyarakat Adat sampai saat ini masih terjaga dan lestari.

No comments:

Post a Comment