Saturday, August 27, 2016

Workshop Exit Strategy Program Peduli



Workshop Exit Strategy Program Peduli 
Tanjung, 27 Agustus 2016  
      A.    Pendahuluan
Melalui pengawasan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, pemerintah meluncurkan program PNPM Mandiri dengan memberikan porsi kerjasama dengan masyarakat sipil yang menjangkau seluruh kelompok/komunitas terpinggirkan yang masih dianggap sulit menerima mamfaat dari PNPM Mandiri oleh karena terstigma atau terdiskriminasi. Mereka termasuk masyarakat miskin yang bisa jadi karena adanya hambatan fisik dan budaya, seperti difabel, kelas, etnis, agama dan norma gender yang dilekatkan pada mereka sehingga dikecualikan partisipasinya sebagai anggota masyarakat.
Pada program peduli Tahap II, dengan mengdepankan fokus issue eksklusi sosial seperti akses layanan publik, stigma, diskriminasi, hak dan keadilan sosial lainnya perlu untuk segera kita semua meningkatkan perhatian setidaknya dalam diskursus indikator kemiskinan. Sebab partisipasi mereka dipengaruhi oleh siapa saja, baik oleh masyarakat sekitar atau diluar secara umum yang bisa saja mengakibatkan susahnya menghilangkan prasangka atau stigma yang sudah melekat pada mereka.
Setidaknya ada dua faktor penting yang digunakan sebagai pendekatan untuk mensukseskan kampanye inkulsi sosial yaitu : penguatan pada mereka yang terpinggirkan atau terekslusi dan kedua adalah perubahan pemahaman dan perilaku pada masyarakat luas maupun pemerintah untuk mewujudkan penerimaan. Pada tahap yang lainnya membangun kemampuan bagi mereka yang terekslusi dengan tujuan agar mereka lebih berdaya dan siap berpartisipasi dengan baik dan mengkampanyekan pentingnya penerimaan sosial bagi  mereka yang terekslusi.
Pelaksanaan Program Peduli di Nusa Tenggagra Barat (NTB) diarahkan kepada penguatan masyarakat adat Wetu Telu Bayan, Kabupaten Lombok Utara (KLU). Program ini di laksanakan oleh SOMASI NTB bekerjasama dengan Satunama Yogykarta yang didukung oleh Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI. Program Peduli ini bertujuan untuk memperkuat masyarakat adat bayan untuk mencapai keadilan dan inklusi sosial di KLU.
Pada kegiatan workshop exit program peduli Tahap II ini akan membahas capaian, kendala dan rekomendasi untuk mendorong perubahan yang diharapkan untuk mengawal capaian yang sudah ada pada tingkat kabupaten. Capaian dimaksud adalah bagaimana mematangkan pola hubungan antar kader peduli Bayan yang sudah ada saat ini dengan jumlah sekitar delapan puluh kader yang sebagian besar digagas oleh kelompok muda lintas Desa di Kecamatan Bayan.    
Posisi kader peduli merupakan potensi sekaligus pelaung yang harus dimatangkan tidak saja kaitannya dengan mematangkan pola hubungan organisasi bagi kader namun juga peluang untuk merespon kendala guna merumuskan langkah antisipasi sesuai dengan kebutuhan dan kesepakatan didalam organisasi yang sudah ada.
Sebab masih banyak hal yang harus dirumuskan secara bersama terkait dengan capaian program yang sudah ada semisal mengawal lebih intens percepatan proses pembuatan peraturan bupati tentang pengakuan masyarakat adat Bayan pada tingkat kebijakan, percepatan pengawalan proses istbat nikah didua desa lokasi program menjadi agenda bersama antara Pemerintah Desa dan Kebupaten melalui satuan kerja pemerintah daerah terkait pilar pelayanan sosial.
Pada sisi yang lain perlu juga peran serta kader peduli untuk terlibat dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pembangunan untuk memastikan terakomodirnya agenda yang sesuai kebutuhan masyarakar adat sebagai salah satu pilar program peduli yaitu penerimaan sosial.
Selama proses pelaksanaan program tentunya juga harus diperhatikan apa saja hal-hal yang menjadi peluang, tantangan, kekuatan dan kelemahan. Semuanya harus terdokumentasi dengan baik untuk memastikan apakah managemen pelaksanaan program sudah efektif, terukur, akuntabel dan berkelanjutan. Semua pertanyaan tersebut akan terjawab dengan baik melalui pelaksaan workshop exit program.

B.Tujuan Kegiatan
1.      Teridentifikasinya kendala, peluang kekuatan dan acaman selama pelaksanaan program peduli tahap I dan II.
2.      Teridentikasinya gagasan untuk melibatkan masyarakat adat wetu telu Bayan yang berada di luar lokasi kegiatan yang selama ini dikerjakan.
3.      Teridentifikasinya rekomendasi untuk melakukan pengawalan yang lebih intens terkait dengan capaian-capaian selama proses pelaksanaan kegiatan program peduli tahap I dan II.

C.Fasilitator dan Kepesertaan     
Kegiatan ini akan difasilitasi oleh Bapak Sulistiono dan Yudi Darmadi serta akan diikuti oleh peserta yang terdiri dari semua tim program peduli dan melibatkan kader peduli adat Bayan yang berjumlah 30 orang yang terdiri dari 10 orang Tim Program dan staf SOMASI, 10 orang dari Karang Bajo dan Desa Bayan. 

Hasil Program

1.      Perubahan yang signipikan
2.      Adanya kerjasama semua pihak, baik Masyarakat, Pemdes, dan juga Pemda
3.      Adanya keinginan bersama Masyarakat Adat untuk membuat Perda tentang Pengakuan Masyarakat Hukum Adat
4.      Dukcapil mendapat data dari kegiatan yang telah dilakukan oleh Somasi
5.      Harapan kedepan, adanya dukungan tertulis dari pemerintah daerah tentang Pengakuan Masyarakat Hukum Adat
6.      Masyarakat mulai mengurus data kependudukan
7.      Secara tidak langsung, R. Sawinggih selaku PLT Desa Batu Rakit sudah mulai mengumpulkan data kependudukan.
8.      Hampir seluruh Masyarakat Adat Bayan terstigma negatip tentan waktu telu, sehingga ada kegiatan penulisan buku untuk menepis stigma tersebut
9.      Dari segi penerimaan, para Kader Inklusi sudah sering terlibat adalam musrembang. Kedepan, para kader harus bisa mengusulkan program yang lebih sesuai untuk masyarakat
10.  Perpustakaan Adat sudah launching, perpus ini merupakan salah satu alternative sebagai tempat untuk berkumpul dan berdiskusi. Kedepan Bayan memiliki lembaga kebudayaan atau dalam bentuk sekolah budaya dan hal serupa lainnya
11.  Tradisi menulis akan tumbuh dari sering membaca, inspirasi menulis itu sumbernya dari bacaan
12.  Perpus ini menjadi learning center bagi katifitas warga Masyarakat Adat Bayan
13.  Dalam program peduli yang berjalan, hanya Somasi yang membuat perpustakaan

Tantangan 

1.      Koordinasi antar pemerintah daerah (lintas sektoral) harus lebih baik
2.      Pemahaman pemerintah daerah tentang program inklusi belum seragam
3.      Pendekatan Inklusi social dalam perencanaan dan pembangunan

Program Nawacita

1.      Sinergitas semua pihak
2.      Produksi kebijakan Inklusi
3.      Menampilkan wajah Negara yang melayani warga Negara

Harapan kedepan 

1.      Inovasi kebijakan
2.      Inovasi Penerimaan
3.      Inovasi Layanan

No comments:

Post a Comment